Kamis, 24 Maret 2016

MEMBERITAKAN INJIL YANG MURNI


Dalam Galatia 1:8-9 dikatakan bahwa kalau ada yang memberitakan Injil yang lain, baik malaikat mapun manusia, “terkutuklah dia”. Dengan pernyataan ini, menunjukkan betapa berbahayanya “Injil lain” tersebut. Injil yang lain inilah yang dapat mengakibatkan orang percaya meleset dari panggilan Allah. Berkaitan dengan hal ini Alkitab tegas memperingatkan: Jangan mengajarkan ajaran lain.
Bagaimana Injil yang benar itu? Injil yang benar tertulis kitab Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan Injil yang telah diberitakan oleh Paulus. Untuk memahami Injil yang diberitakan Paulus, perlulah mendalami surat-surat Paulus yang tertulis dalam Alkitab. Di dalamnya memuat apa yang Tuhan ajarkan kepada mereka, dan yang harus diteruskan kepada orang percaya di sepanjang abad. Jadi bila seorang pembicara salah mengartikan isi Alkitab, itu berarti ia memberitakan Injil yang lain. Injil yang benar adalah semua kebenaran yang termuat dalam Alkitab.

Bagaimana dapat memahami Injil yang benar kalau tidak memahami isi Alkitab? Memang sebelum ada kitab Perjanjian Baru, murid-murid Tuhan Yesus belajar langsung dari Tuhan. Tetapi setelah ada Alkitab orang percaya yang hendak mengenal Injil yang benar harus belajar dari Alkitab, khususnya ajaran Tuhan Yesus dalam Injil (kitab Perjanjian Baru). Tidak ada saluran lain yang diajarkan Tuhan selain Alkitab. Hal ini ditegaskan oleh Tuhan Yesus dengan ucapan-Nya: “Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang kuperintahkan kepada-Mu”(Matius 28:18-20). Jadi bukan Tuhan Yesus sendiri secara langsung, murid-murid-Nyalah yang meneruskan pengajaran-Nya, dan pengajaran Tuhan tersusun dalam Alkitab ini.
Tuhan Yesus Kristus tatkala memberitakan Injil di bumi selama 3,5 tahun, adalah mengajar( Matius 4:23; 9:35; 26:55),(Lukas 19:47; 4). Sebagian besar waktu-Nya dipergunakan untuk mengajar.
Paulus pun dalam perjalanan pelayanannya memberitakan “Injil” dimana-mana dengan mengajar. Mengajarkan Injil artinya menjelaskan kebenaran Allah secara mendalam dan luas. Pengajaran Yesus memiliki jelajah yang luas dan dalam. Jadi misi Injili adalah pemberitaan Injil yang benar dengan mengajarkan sepenuh isi Alkitab kepada umat manusia.

Memberitakan Injil harus dipahami sebagai mengajarkan kebenaran Alkitab secara lengkap. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Paulus dalam seluruh tulisannya dan kitab Ibrani. Dalam Ibrani 6:1-2, disebutkan tentang azas-azas pertama dan ajaran tentang Kristus, selanjutnya ada ajaran lanjutan. Oleh sebab itu, kalau mau mengerti ajaran Injil yang benar, orang percaya harus tekun belajar dengan sungguh-sungguh dan membutuhkan waktu panjang. Tentu belajar dari orang yang mengerti ajaran tentang Injil Yesus Kristus tersebut dengan benar. Selanjutnya ajaran yang benar akan membuahkan “roh” dalam arti semangat atau gairah (Spirit) hidup yang benar. Injil yang benar akan menciptakan manusia rohani yang hatinya ada di Sorga.
Injil artinya kabar baik. Baik yang bagaimana? Kalau baiknya diarahkan kepada hal-hal dunia, maka itu berarti penyesatan. Sebab hal-hal dunia atau fasilitas dunia juga bisa diberikan Iblis.
Kata “baik” berasal dari kata eu (Yunani), dan dalam hal ini adalah hal-hal yang menyangkut “kebenaran”, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
Roma 14:17-18 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
(18)Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.

Jemaat harus dilepaskan dari Injil yang sesat (berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan jasmani semata-mata) dengan kuasa kebenaran Injil, yaitu kebenaran yang termuat dalam Alkitab secara benar. Inilah yang dimaksud bahwa Firman-Nya menguduskan.
Kenyataannya, hari ini jemaat lebih diarahkan kepada kepentingan fisik atau pemenuhan kebutuhan jasmani, dari pada batiniahnya yang harus terus menerus diperbaharui. Menjadi orang percaya berarti telah dibawa kepada habitat baru, yaitu habitat warga Kerajaan Sorga. Dalam hal ini orang percaya harus berani meninggalkan dunia dengan segala konsepnya. Gereja yang benar adalah gereja yang sungguh-sunguh membawa umat Tuhan kepada “perkara-perkara yang di atas”. Inilah yang membedakan orang percaya dengan bangsa Israel secara lahiriah. Mereka berorientasi kepada hal-hal dunia, makan minum, kawin mengawinkan, kesehatan, tanah Kanaan dan lain sebagainya, sehingga mengabaikan hal-hal rohani yang seharusnya menjadi perhatian utama. Dengan uraian ini bukan berarti kita tidak membutuhkan pemenuhan kebutuhan jasmaniah. Orang percaya memang membutuhkannya, tetapi hal-hal tersebut bukanlah tujuan kehidupan. Belakangan ini masih dijumpai begitu banyak orang Kristen yang menjadikan hal-hal duniawi tersebut sebagai tujuan utama kehidupan. Mereka akan gagal menerima keselamatan.

Yohanes 17:17  Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

Amin.

BERBAKTI KEPADA TUHAN YANG BENAR


Roma 11:36
Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Menjadi kesalahan fatal yang harus diluruskan yaitu konsep berbakti yang selama ini dimengerti oleh orang Kristen pada umumnya. Pada umunya yang namanya berbakti kepada Tuhan selalu dikaitkan dengan kegiatan agama di dalam lingkungan gereja. Kata berbakti dalam Alkitab bahasa Indoneisa dapat ditemukan dalam kitab
Ulangan 13:4; Yosua 22:5; Matius 4:10; Lukas 4:8.
Dalam Perjanjian Lama dapat ditemukan kata Abad, yang diterjemahkan to work; serve; labor; bekerja, melayani. Dalam hal ini harus dimengerti bahwa yang dimaksud berbakti bukan hanya menyangkut kegiatan lingkungan gereja. Tetapi meliputi seluruh gerak hidup kita.

Perintah pertama Allah agar manusia berbakti kepada Tuhan dapat ditemukan dalam Kejadian 1:28; 2:15. Pengelolaan bumi atau menyelenggarakan kehidupan untuk manusia itu sendiri dan lingkungannya adalah sebuah kebaktian. Selanjutnya perintah Tuhan kepada Nuh untuk membuat bahtera juga merupakan perintah untuk berbakti. Bekerja mengelola menciptakan alam semesta yang Tuhan ciptakan ini adalah ibadah. Manusia harus mengelola bumi ini bagi kehidupan dan lingkungannya. Jadi bekerja juga adalah sebuah kebaktian atau ibadah kepada Tuhan (Namun perlu diingat bekerja disini adalah bekerja yang memiliki dialog dengan Tuhan dan memiliki hubungan dengan Tuhan yang tidak terputus) .

Kata “kebaktian” dapat ditemukan di Perjanjian Baru dalam Matius 4:10 dan Lukas 4:8; berkaitan dengan pencobaan yang dialami Tuhan Yesus untuk menyembah Iblis. Penolakan Tuhan Yesus menggunakan kalimat ini sebagai landasannya. Dari peristiwa ini kita dapat menemukan kebenaran bahwa berbakti kepada Tuhan adalah sikap yang tidak menghamba kepada dunia. Segala sesuatu yang kita kerjakan dalam hidup ini sebagai pedagang, pengusaha, karyawan, ibu rumah tangga dan lain sebagainya jangan malah dijadikan sikap penyembahan kepada dunia, tetapi sebagai anak Tuhan kita menjadikan hal tersebut adalah tanda bakti kita kepada Tuhan dan hasilnya dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itu yang harus kita pahami bahwa rumah ibadah kita bukan hanya gereja, tetapi rumah kita, toko, kantor, warung dan lain-lain di mana kita mencari nafkah dan bekerja adalah rumah ibadah kita. Oleh sebab itu kita tidak berhenti berbakti kepada Tuhan walau kita keluar dari ruangan gereja kita.

Jam berbakti kita bukan hanya 2 jam dalam gereja tetapi 24 jam waktu kita adalah jam kebaktian kita yang terus menerus berlangsung tiada henti. Di sini kita dapat menikmati hidup dalam kebaktian kepada Tuhan sepanjang waktu kita. Orang yang berbakti kepada Tuhan selama hidup dalam dunia, maka ia akan diperkenan berbakti kepada Tuhan selama-lamanya di Kerajaan Sorga. Sangatlah indah kalau dalam hidup ini kita memfokuskan perhatian kita kepada Tuhan yang menjadi tujuan hidup kita. Tujuan ibadah dan kebaktian kita.
Yang menjadi masalah terbesar dalam hidup kita sekarang ini adalah menerjemahkan iman dalam kehidupan. Bukan dalam pengakuan atau ritual; seperti yang dilakukan oleh agama-agama pada umumnya.

Seluruh gerak hidup kita adalah kebaktian dan penyembahan kepada Tuhan. Di dalam hidup kita ada irama memuji dan menyembah Tuhan. Dalam Roma 12:1-2 sebenarnya sudah jelas bagaimana seharusnya kita menerjemahkan iman kita.
Roma 12:1-2 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Banyak orang yang ibadahnya masih dalam wujud ritual atau upacara. Upacara kita adalah seluruh hidup ini. Ini berarti seluruh hidup kita telah dimiliki Tuhan. Pengakuan ini ditandai dengan kesediaannya tidak mencari penghormatan apa pun dari dunia ini. Segala sesuatu dari Dia, oleh Dia dan bagi Dia. Kalau hidup kita dimiliki Tuhan, maka tidak ada pujian dan sanjungan yang kita layak terima. Semuanya harus dikembalikan kepada Tuhan. Hal ini adalah sikap hati. Yang penting bagaimana hati kita memberi penghormatan kepada Tuhan.

Selanjutnya, seluruh gerak kita adalah pengabdian kepada Tuhan. Terdapat kesediaan menggunakan hidup ini untuk melayani Tuhan. Untuk kesenangan hati-Nya. Inilah yang dikatakan Paulus bahwa apa pun yang kita lakukan kita memuliakan Tuhan. Inilah sebenarnya irama yang benar, seluruh hidup kita adalah irama menyembah Tuhan.
Ibadah kepada Tuhan adalah sikap hati, artinya seorang yang beribadah kepada Tuhan tidaklah diukur dari ritual atau tata cara upacara agamanya, tetapi seluruh tindakan dan perbuatan dalam hidupnya. Tuhan Yesus sama sekali tidak mengajarkan kalau beribadah kepada Tuhan harus melipat tangan, atau mengangkat tangan, harus menghadap ke arah timur atau barat. Menyanyi dengan lagu irama cepat atau lambat, bahasa Indonesia atau bahasa Ibrani. Dalam seluruh pengajaran yang Tuhan ajarkan selama 3,5 tahun, Ia menekankan sikap hati yang tentu terekspresi dalam tindakan yang mulia dan agung seperti diri-Nya.

Amin.

Rabu, 23 Maret 2016

MEMAHAMI KEKRISTENAN SECARA BENAR



Kolose 3:1-4 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.
Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.

Injil adalah buku petunjuk bagaimana hidup sebagai anak-anak tebusan yang telah dibeli dengan darah Yesus dan menjadi anak-anak Tuhan dengan pola tindak dan pola kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Selama tiga setengah tahun Tuhan Yesus memberitakan Injil-Nya, artinya Tuhan memberi penjelasan bagaimana pengoperasikan hidup manusia yang sebenarnya. Buku petunjuk ini tidak sederhana. Harus berusaha memahami secara mendalam dan lengkap. Di sinilah kualitas hidup seseorang ditentukan. Apa yang diajarkan Tuhan Yesus adalah “terang manusia”, artinya dengan memahami apa yang diajarkan Tuhan Yesus maka seseorang bisa menempatkan diri bagaimana seharusnya menjalani hidup ini.

Dewasa ini, banyak pemberitaan Injil yang tidak sesuai dengan Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Ibarat pada mesin atau barang elektronik, buku petunjuknya palsu. Bayangkan, kalau sebuah mesin atau alat elektronik dioperasikan dengan menggunakan buku petunjuk yang salah, betapa konyol. Mesin atau alat elektronik yang mahal itu akan rusak dan sia-sia. Kalau harga mesin atau alat elektronik tersebut mahal, betapa besar kerugiannya. Kehidupan orang percaya lebih dari segala mesin dan barang elektronik. Kalau kehidupan orang Kristen sampai rusak, tak terbayangkan betapa besar kerugiannya.

Sebagai akibat buku petunjuk yang palsu, banyak orang Kristen yang tidak pernah mengalami dan memiliki keselamatan. Inilah cara Iblis menuai manusia di dalam lingkungan gereja untuk menjadi anggota kerajaan kegelapan. Hal ini terjadi pada gereja yang penggembalaannya diselenggarakan oleh gembala yang tidak mengerti kebenaran Injil yang murni. Mereka adalah gembala jahat yang menggiring domba-domba ke pembataian.
Harus disadari bahwa oknum iblis ini berusaha terus menerus menggiring manusia agar masuk perangkapnya,
iblis sangat licik dan cerdas, tujuannya hanya satu yaitu untuk membinasakan manusia dan terbuang dari hadirat Allah yaitu dengan perangkapnya yang tidak disadari oleh manusia, dan alkitab mengatakan iblis adalah pencuri, iblis adalah pencuri yang bisa mencuri keselamatan seseorang tanpa disadari oleh orang yang telah dicurinya.
Yohanes 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Jadi tanpa pimpinan Roh Kudus dan memahami kebenaran Firman Tuhan, kita pasti tertipu. Pada umumnya gaya hidup manusia ditentukan atau sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Gaya hidup dunia yang fasik ini merupakan buku petunjuk yang menggiring manusia masuk ke dalam gaya hidup yang tidak dikehendaki oleh Tuhan.
Kalau keadaan ini berlarut-larut, tidak dihentikan segera, maka seseorang akan makin rusak dan mungkin tidak pernah dapat diperbaiki lagi. Tidak sedikit pemimpin gereja dan anak anak Tuhan yang pola pikirnya masih terdistorsi oleh cara berpikir logika dunia.

Menjadi orang percaya, kita harus belajar Injil untuk menemukan bagaimana seharusnya kita hidup. Proses pembelajaran ini harus berlangsung dengan serius secara berkesinambungan dengan sarana Injil yang benar, buku petunjuk yang benar. Diharapkan jemaat Tuhan menggunakan akal sehatnya dan hati nuraninya yang dituntun oleh Roh Kudus untuk mengenali “kebenaran” yang original.
Pada akhirnya orang percaya yang belajar buku petunjuk Tuhan tersebut (Injil) dengan benar akan mengerti bahwa maksud Injil diberikan agar orang percaya memiliki kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Sesuai dengan kehendak Tuhan artinya memiliki kehidupan yang sempurna seperti Bapa. Ini adalah hal mutlak yang tidak bisa digantikan dengan apa pun. Hal inilah yang membuat Kekristenan menjadi tidak mudah, tetapi jalan yang sukar. Kesukarannya terletak pada sulitnya memahami Injil yang murni dan melakukannya secara konsekuen dan konsisten.

Kita harus menentang dengan tegas dan keras bila Kekristenan diajarkan sebagai jalan yang mudah. Kekristenan adalah jalan yang benar dan terbaik tiada duanya, tetapi bukan mudah. Kekristenan yang diajarkan sebagai jalan mudah dapat mengakibatkan orang-orang Kristen menjadi duniawi. Inilah penyebab kegagalan pelayanan. Banyak orang ke gereja dan setia dalam berbagai kegiatan gereja tetapi tetap hidup dalam “percintaan akan dunia”. Mereka akan binasa sebab tidak pernah mengasihi Tuhan sepenuhnya/tidak segenap hati dan jiwa. Kekristenan yang diajarkan bahwa mengikut Yesus adalah jalan yang mudah, cenderung membawa jemaat Tuhan menjadi kerdil, kekanak-kanakan dan kurang bertumbuh. Bila demikian, maka cinta jemaat terhadap dunia tidak surut. Sebagai akibatnya, hati jemaat tidak merindukan Yesus dan kerajaan-Nya.
Bibirnya mengasihi Tuhan, tetapi hatinya mengasihi harta dan dunia ini. Ini berarti terjadi praktek persundalan atau perzinahan rohani yang melukai hati Tuhan. Ironinya, mereka tidak merasa sedang melukai hati Tuhan, sebab mereka tidak terlibat dalam berbagai pelanggaran moral umum. Harus dipahami bahwa tindakan dosa bukan hanya tindakan yang kelihatan, tetapi sikap hati sudah merupakan tindakan yang membangkitkan reaksi Tuhan.

Amin.

DI PERHAMBA OLEH KESENANGAN HIDUP DUNIA


1 Korintus 6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.

Dunia kita yang semakin materilistis ini juga semakin konsumeristis. Manusia semakin haus barang-barang dan segala fasilitas untuk dapat dijadikan sebagai kebahagiaannya. Perkembangan pola hidup manusia, khususnya di kota-kota besar, dari konsumeristis terbatas sampai konsumeristis tanpa batas.
Salah satu tren jahat yang menghinggapi manusia, yang tidak disadari oleh banyak orang termasuk orang Kristen, adalah kebanggaan memakai barang branded. Kata lain dari kebanggaan di sini adalah kesombongan. Orang meninggikan diri dengan kendaraan, pakaian, arloji, tas, sepatu dan barang lainnya yang memiliki merk “bergengsi” karena harganya. Seakan-akan dengan mengenakan barang-barang yang bermerk tersebut (branded), maka nilai dirinya menjadi tinggi. Mereka telah terjebak pada kerancuan antara price dan value. Karena barang-barang tersebut secara nilai uang bernilai tinggi, maka barang tersebut dianggap sebagai bervalue tinggi, sehingga yang mengenakannya juga bertambah dalam value. Betapa bodohnya manusia. Tetapi faktanya hampir semua manusia telah terjebak dan terjerat dalam pola dan gaya hidup ini. Mereka hidup dalam kesombongan dari hari ke hari dan terus semakin menikmati kesombongan tersebut. Tidak heran kalau ada orang-orang yang hidupnya hanya mau memburu barang-barang branded. Mereka semakin jauh dari Tuhan dan menjadikan dirinya musuh Allah. Malangnya mereka tidak menyadari hal tersebut.

Selain hal menggunakan barang branded menjadi kebanggaan, tetapi juga kecanduan. Kecanduan adalah kata lain dari keterikatan. Seseorang tidak merasa bahagia kalau tidak mengenakan barang-barang branded. Orang-orang seperti ini tidak mungkin dapat menjadikan Tuhan sebagai sukacitanya. Betapa jauhnya dari pengakuan Pemazmur yang adalah sejatinya menjadi standar warna jiwa umat Tuhan, bahwa kita seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, bahwa Tuhan adalah kebahagiaan kita, bahwa hanya Tuhan yang kita ingini dan lain sebagainya. Barang-barang branded bisa menjadi candu yang membuat seseorang tidak lagi mengingini Tuhan. Faktanya memang banyak orang berurusan dengan Tuhan bukan karena membutuhkan Tuhan pribadi, tetapi membutuhkan kekuatan-Nya untuk meraih dunia atau barang-barang yang dipandang dapat mengangkat martabat dan harga dirinya.

Kalau dipertanyakan: apakah salah mengenakan barang branded? Maka jawabnya terdapat dalam Firman Tuhan yang mengatakan: Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.
Mengenakan barang-barang branded bukan sesuatu yang salah, tetapi kalau barang-barang tersebut menjadi ikatan, maka hal tersebut sudah melanggar prinsip kekudusan Tuhan. Kita harus terikat dengan Tuhan, bukan terikat dengan sesuatu yang lain. Keterikatan terhadap barang-barang dunia adalah dosa keberhalaan. Inilah berhala modern yang mengikat kehidupan banyak orang. Dengan berkeadaan terikat oleh barang-barang branded maka berarti seseorang tidak mengikatkan diri dengan Tuhan. Inilah orang-orang yang berzina meninggalkan Tuhan.

Dengan gaya hidup di atas, maka manusia meninggikan nilai-nilai duniawi dan merendahkan nilai-nilai rohani. Tidak mungkin seorang yang menghargai secara tidak benar barang-barang duniawi bisa menghargai niali-nilai rohani. Dari hal ini kuasa dunia menggiring manusia kepada penyembahan terhadap Iblis. Dalam Lukas 4:5-8 dikisahkan mengenai pencobaan Tuhan Yesus. Iblis menawarkan keindahan dunia, kalau Yesus mau menyembahnya, maka dunia diberikan kepada Yesus. Tuhan Yesus menolak, sebab manusia harus menyembah kepada Tuhan Allah dan hanya kepada Allah saja manusia harus berbakti. Pernyataan Tuhan Yesus ini sudah mengandung kesimpulan bahwa kalau manusia mengingini harta atau barang dunia berarti menyembah Iblis. Orang yang menjadikan harta atau barang dunia sebagai value kehidupan akan menjadi orang yang haus uang. Tidak bisa tidak hal ini akan mengkondisikan seseorang pada cinta akan uang. Padahal cinta akan uang adalah akar segala kejahatan, Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

1 Timotius 6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Amin.

CARA MEMANDANG HIDUP YANG DIUBAHKAN


Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Pada intinya Kekristenan harus dapat mengubah cara kita memandang hidup ini. Bila cara kita memandang hidup berubah, maka seluruh gaya hidup kita juga berubah. Usaha merubah cara kita memandang hidup inilah yang dimaksud Tuhan dengan mendahulukan Kerajaan Allah. Ini suatu usaha yang sangat sulit. Oleh sebab itu kita tidak boleh menganggapnya mudah. Banyak orang merasa sudah menjadi orang Kristen yang baik dengan memiliki moral yang baik di mata masyarakat dan pengetahuan Alkitab yang menurutnya memadai, padahal caranya memandang hidup masih tidak berbeda dengan anak-anak dunia. Merubah cara memandang hidup sama dengan merubah gaya hidup “normal”menurut dunia ke arah yang dipandang Tuhan dalam pemandangan-Nya bisa dinikmati oleh-Nya.
Merubah “kenormalan” yang dipandang dunia inilah hal yang sebenarnya nyaris tidak dapat dilakukan, sebab pola “kenormalan” ini telah mengakar selama belasan bahkan puluhan tahun. Dalam hal ini, hidup baru yang dimaksudkan oleh Alkitab, harus dimengerti secara benar.
2 Korintus 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Pada umumnya orang memahami hidup adalah makan dan minum, memiliki fasilitas (rumah, mobil dan lain sebagainya), menikah dan memiliki keturunan, menikmati segala sesuatu yang bisa dinikmati dalam hidup ini (hobby, pemandangan alam, hiburan-hiburan yang ditawarkan dunia dan lain sebagainya), meraih gelar, pangkat dan kehormatan. Demikianlah pada umumnya manusia menjalankan hidupnya. Inilah pola umum yang baku, yang dikenakan semua manusia.

Pengikut Tuhan Yesus yang sejati yang telah lahir baru harusnya ketika ia menemukan Tuhan Yesus dalam hidupnya, segala sesuatu di atas tersebut dianggapnya menjadi tidak berarti yang dalam artian bukan hal prioritas yang utama lagi dalam hidupnya.
Oleh karena hal ini Paulus berkata:
Filipi 1:21 "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan".

Tuhan menjadi tujuan hidup satu-satunya.
Hidup adalah menemukan Tuhan, mengenal-Nya dengan baik dan melakukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Karena Tuhan lebih luas dari jagad raya dan “pribadi Agung” yang tidak terselami, maka untuk menemukan Tuhan, mengenal dan melakukan kehendak-Nya dibutuhkan perjuangan yang tidak memprioritaskan segala hal selain hanya Tuhan yang menjadi prioritas utama. Itulah sebabnya Tuhan Yesus tegas berkata: ”Kumpulkan harta di surga bukan di di bumi. “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan”(Matius 6:19-20;24). Ini berarti kita harus mengabdi kepada Tuhan satu-satunya dan sepenuhnya atau tidak usah sama sekali.

Satu hal yang paling merusak hubungan kita terhadap Tuhan adalah “kekhawatiran”. Mengapa khawatir? sebab kita takut akan terjadi sesuatu dalam kehidupan di bumi ini. Untuk proteksinya, seseorang berusaha memiliki harta sebanyak-banyaknya. Padahal harta tidak dapat menopang kehidupan kita. Berapa harta yang kita miliki yang dapat menjamin keamanan kita? Tuhan Yesus mengatakan bahwa hidup manusia tidaklah tergantung dari kekayaan (Lukas12:15).
Jangan mencoba memproteksi diri atau meraih kebahagian dengan banyaknya harta. Itu suatu kebodohan.
Ketika Tuhan berbicara mengenai hal mendahulukan Kerajaan Sorga, terlebih dahulu Ia berbicara mengenai kekhawatiran.

Kita memang diberi Tuhan tanggung jawab dalam hal mengelola apa yang Tuhan sudah percayakan kepada kita, contoh, dalam hal bekerja, memperhatikan kesehatan dll, Setelah kita memenuhi bagian kita, barulah kita bisa berkata” hidup kami adalah hidup yang berserah kepada Tuhan”. Ini bukan berarti kita tidak peduli hari esok. Tentu kita mempersiapkan diri menyongsong hari esok sebatas yang kita bisa lakukan, di luar itu kita berserah kepada Tuhan. Hal ini kita lakukan agar fokus kita tidak menjadi bias atau melenceng dalam mendahulukan Kerajaan Sorga.

Pertaruhan dan pengorbanan untuk memiliki cara pandang baru terhadap hidup adalah seluruh hidup kita. Kita tidak bisa menjadikannya sambilan. Pertaruhan dan pengorbanan yang sedikit tidak akan membawa kita kepada pengenalan dan kehendak-Nya secara penuh. Demi supaya hubungan kita terhadap Tuhan dapat berjalan lancar atau tidak terhambat, Firman-Nya menasihati kita bahwa kita harus memiliki rasa cukup.
1 Timotius 6:6-7 "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar".
Tanpa rasa cukup manusia tidak akan pernah berhenti memburu sesuatu yang “bukan Tuhan”. Pertaruhan dan pengorbanan yang berat adalah ketika seseorang harus “barter”. Paulus menunjukkan bahwa ia harus “melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya ia memperoleh Kristus". Melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, adalah hasil dari cara memandang hidup yang diubah.
Filipi 3:7-8 "Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus".
Dalam ayat ini Paulus menunjukkan betapa tidak berartinya dunia ini, itulah sebabnya ia melepaskan segala sesuatu demi memiliki Kristus. Inilah cara memandang hidup yang diubah.

Amin

Selasa, 22 Maret 2016

PANDANGAN YANG BENAR TENTANG MUJIZAT TUHAN


Dalam Ibrani 3:7-11 tertulis: “Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”

Dalam ayat ini jelas sekali bahwa Tuhan sudah “berusaha” menunjukkan perbuatan besar (keajaiban dan mujizat) dan menuntun agar bangsa Israel mau dengar-dengaran atau taat, agar mereka sampai ke tanah Kanaan, tetapi ternyata mereka tidak dengar-dengaran dan tidak mau taat. Mereka tetap memberontak kepada Tuhan. Sehingga Tuhan bersumpah dalam murka-Nya bahwa mereka tidak akan masuk ke tempat perhentian.

Kalimat yang diucapkan Tuhan: “sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku”, menunjukkan bahwa Tuhan tidak bersalah kalau menghukum mereka, karena Tuhan telah mengusahakan agar mereka menerima tuntunan-Nya. Mereka telah menerima kesempatan dan tuntunan untuk dengar-dengaran, tetapi mereka sendiri yang menolak dengan sengaja. Dari ayat di atas menunjukkan bahwa penolakan itu jelas bukan karena Tuhan yang merekayasa atau membuat mereka menolak, tetapi kehendak mereka sendiri. Nampak dari teks di atas usaha Tuhan yang serius menuntun mereka kepada rencana-Nya, yaitu membawa ke Kanaan, tetapi mereka tidak mau mengerti. Mereka lebih menuruti keinginannya sendiri. Kalau Tuhan sengaja membuat mereka menolak tuntunan-Nya, tentu Tuhan tidak perlu menunjukkan perbuatan yang besar dari Tuhan agar mereka dengar-dengaran. Dari tindakan Tuhan menampilkan perbuatan-perbuatan-Nya yang dahsyat di mata bangsa Israel, yaitu mujizat dan berbagai kejaiban agar mereka dengar-dengaran, menunjukkan bahwa Tuhan tidak dapat intervensi ke dalam jiwa masing-masing individu, karena masing-masing individu memiliki independensi menerima atau menolak.

Sangatlah keliru kalau ada yang berpikir bahwa Tuhan menentukan hanya orang-orang tertentu yang sampai di Kanaan, sedangkan yang lain ditewaskan di padang gurun. Tuhan tidak menentukan mereka tewas di padang gurun, tetapi pilihan mereka sendiri dari kehendak bebas mereka. Tuhan tidak mengendalikan mereka sehingga menghilangkan independensi masing-masing individu. Hal ini sejajar dengan proses keselamatan atas individu. Tuhan berusaha membawa umat yang dipilih untuk menghuni Kerajaan Sorga, tetapi keputusan dan pilihan masing-masing individu yang menentukan.

Sebagaimana dalam perjalanan di padang gurun dari Mesir ke Kanaan, Tuhan tidak menentukan orang yang tidak bisa menolak anugerah atau tidak bisa menerima anugerah untuk sampai tanah Kanaan, demikian pula keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Tuhan tidak pernah bertindak membuat seseorang tidak bisa menolak anugerah-Nya, juga sisi lain tidak bisa menerima anugerah-Nya. Hal ini perlu ditulis supaya kita yang hidup di zaman akhir ini tidak mengalami seperti yang dialami sebagian besar bangsa Israel yang tewas di padang gurun. Patut kita berhati-hati sebab banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih (Matius 22:14).

Dalam tulisan Paulus tersebut di 1 Korintus 10:1-5, Paulus menunjukkan bagaimana Allah telah memperlihatkan perkara-perkara besar dan mereka mengalami hal-hal yang luar biasa, tetapi mereka tetap gagal sampai tanah Kanaan karena ketidaktaatan mereka.
Peringatan Paulus kepada jemaat Korintus tersebut adalah peringatan untuk semua kita yang hidup sekarang ini.
Hal ini menunjukkan bahwa untuk memiliki penurutan terhadap kehendak Allah bukan hal yang mudah. Melihat dan mengalami mujizat bukanlah jaminan seseorang bisa bertobat sehingga selamat.
Olehnya memandang mujizat itu adalah sebagai tuntunan dan panggilan dari Tuhan untuk seseorang melakukan pertobatan secara sempurna dan memberikan hidupnya untuk taat kepada Tuhan sepenuh-Nya

Amin.

MENGENAL KEHENDAK BEBAS MANUSIA SECARA BENAR


2 Korintus 6:17-18 Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.
Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa."

Kehendak adalah dorongan dalam diri manusia untuk meraih atau mengharapkan sesuatu. Dengan kehendak ini manusia bisa menciptakan berbagai cita-cita dan harapan yang ditujukan kepada sesuatu atau seseorang. Inilah keistimewaan manusia yang melebihi dari semua ciptaan Allah yang lain. Sebagaimana Allah yang adalah gambarnya memiliki kehendak, demikian pula manusia diciptakan dengan keberadaan yang sama. Kehendak ini juga dimiliki oleh makhluk Lusifer. Itulah sebabnya ia memiliki keinginan untuk mendirikan takhtanya sendiri dan mengatasi Allah. Dalam Alkitab makhluk ini mengatakan: "aku ingin atau aku hendak…" Dengan keberadaan sebagai mahkluk yang memiliki kehendak atau keinginan, baik Lusifer, malaikat maupun manusia, harusnya bertanggung jawab tentang kepercayaan yang Tuhan berikan dalam hidupnya.

Binatang juga memiliki kehendak, tetapi kehendaknya hanya dibatasi oleh kebutuhan fisik saja, makan minum, pemuasan libido dan kenyamanan fisik. Berbeda dengan manusia yang bisa memiliki keinginan seluas-luasnya. Hal ini berkenaan dengan keberadaan manusia itu sendiri yang melebihi ciptaan yang lain.  Manusia memiliki kualitas pikiran dan perasaan yang jauh lebih sempurna dibanding dengan hewan. Manusia bukan saja membutuhkan kenyamanan secara fisik, tetapi juga pemenuhan kebutuhan batiniah yang hanya bisa dijawab oleh Tuhan. Manusia bukan saja membutuhkan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi juga pemenuhan kebutuhan rohani. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4).
Kalau fokus hidup seseorang hanya tertuju kepada hal-hal yang bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, berarti kualitas hidupnya tidak jauh berbeda dengan hewan.

Selain itu dalam relasinya dengan Tuhan, manusia harus bisa menempatkan dirinya dengan benar di hadapan Tuhan dan menempatkan Tuhan secara pantas. Ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Suatu kehormatan yang tiada tara kalau manusia diberi kebebasan untuk menempatkan diri di hadapan Tuhan dengan benar dan hal ini harus dilakukan dengan kerelaan, bukan dengan paksaan. Hal ini menunjukkan bahwa dirinya memilih Tuhan, yaitu mengasihi, menghormati dan dengan segenap hidup mengabdi kepada-Nya.

Meneguhkan hal di atas ini kita dapati beberapa pernyataan dalam Alkitab yang menunjukkan keberadaan manusia yang sangat luar biasa. Manusia adalah makhluk yang memiliki neshamah (roh),
Kejadian 2:7 "ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup".
Pernyataan ayat ini dimaksudkan agar manusia selalu terus menerus memperbaharui pikirannya, sehingga dapat memiliki nurani Ilahi. Jika manusia memiliki nurani Ilahi, maka segala sesuatu yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan dapat selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Itulah sebabnya dalam penciptaan manusia menerima hembusan nafas hidup dari Allah.

Pola penciptaan manusia berbeda dengan pola penciptaan mahkluk lain. Manusia yang menjadi orang percaya yang menerima proses pembentukan atau pendewasaan dari Allah dikatakan sebagai saudara bagi Tuhan Yesus.
Matius 12:50 Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

Allah Bapa memberi Diri disebut oleh orang percaya sebagai Bapanya. Dengan keberadaan yang luar biasa ini, sangatlah tidak mungkin manusia hanya menjadi obyek seperti boneka yang dikendalikan tanpa kebebasan. Manusia adalah subyek yang diperkenan berada di samping Tuhan Yesus sebagai saudara.

Jadi, manusia diperkenan memiliki kehendak bebas dengan tujuan menjadi anak-anak yang dengan kerelaan dari dalam dirinya mengabdi kepada Bapa sepenuhnya yaitu mengabdi kepada Tuhan Yesus. Bahkan Alkitab mengatakan bahwa orang percaya yang berani menderita bersama dengan Tuhan Yesus akan menerima janji-janji-Nya bersama dengan Dia dan dimuliakan bersama-sama dengan Dia.

Amin.